Keanekaragaman Hayati Dusun Patinia yang Kian Terabaikan

Opini, publikmalut.co.id – Seram Bagian Barat – Dusun Patinia, Desa Kawa, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, merupakan wilayah yang dianugerahi keanekaragaman hayati yang melimpah. Laut, hutan, batu-batuan alam, serta tanah yang subur sejatinya menjadi penopang utama kehidupan masyarakat setempat. Namun, kondisi tersebut kini kian memprihatinkan akibat lemahnya kesadaran dalam menjaga kelestarian alam.

 

Bacaan Lainnya

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat nelayan Dusun Patinia merasakan penurunan hasil tangkapan ikan. Ketergantungan pada kondisi cuaca menjadi faktor utama. Saat cuaca buruk melanda, nelayan tidak dapat melaut sehingga berdampak langsung pada menurunnya pendapatan keluarga. Kondisi ini diperparah oleh rusaknya ekosistem alam di sekitar pesisir.

 

Hutan dan batu-batuan alam yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung dari bencana seperti longsor dan banjir, sekaligus penyangga ekosistem pesisir, justru ditebang dan diambil secara sembarangan. Aktivitas ini dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap keseimbangan alam dan keselamatan masyarakat.

 

Eksploitasi alam yang berlebihan mencerminkan minimnya kepedulian terhadap masa depan generasi mendatang. Alam dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat, sementara risiko bencana dan kerusakan lingkungan harus ditanggung anak cucu di kemudian hari.

 

Selain sektor kelautan, Dusun Patinia juga memiliki potensi pertanian yang besar. Tanah yang subur seharusnya mampu menjadi sumber ketahanan pangan masyarakat. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Kurangnya inisiatif dan kesadaran dalam mengelola lahan produktif menyebabkan masyarakat bergantung pada bahan pangan dari luar, sehingga lebih memilih membeli daripada mengolah sumber daya alam yang tersedia.

 

Menurut Rosita Tuhuteru, yang tumbuh dan besar di Dusun Patinia, kondisi ini dipicu oleh rendahnya kesadaran lingkungan dan kurangnya pendidikan yang menanamkan pola pikir jangka panjang.

 

“Kerusakan lingkungan di Dusun Patinia terjadi karena masyarakat belum sepenuhnya menyadari pentingnya menjaga alam untuk keberlangsungan hidup anak cucu. Pendidikan lingkungan masih lemah, sehingga alam terus dieksploitasi tanpa memikirkan dampaknya di masa depan,” ujar Rosita.

 

Ia menegaskan, keanekaragaman hayati bukan sekadar warisan alam, melainkan amanah yang harus dijaga bersama. Tanpa penguatan kesadaran dan pendidikan lingkungan, Dusun Patinia berisiko kehilangan sumber kehidupan dan ketahanan alamnya.

 

Sudah saatnya masyarakat belajar dari kondisi yang ada hari ini. Jika tidak, generasi mendatang hanya akan mewarisi cerita tentang alam Dusun Patinia yang dahulu kaya, namun kini kian terabaikan.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *