Opini, publikmalut.co.id – Jujur saja mungkin banyak diantara para pembaca yang sebelumnya berekspektasi bahwa kuliah itu menyenangkan dan terkesan santai karena pakai seragam bebas untuk ke kampus, belajarnya tidak harus penuh dalam sehari, kadang cuma 2 mata kuliah atau bahkan hanya 1 mata kuliah per hari. Tapi jika disandingkan dengan realitanya kita seperti ditampar oleh kenyataan.
Ternyata jadi mahasiswa atau mahasiswi itu tidak mudah, terkadang kita harus siap kecewa menunggu dosen yang terlambat masuk kelas atau bahkan tidak datang mengisi perkuliahan. Tapi dibalik semua proses itu akan ada akhir yang baik jika diawali dengan kebaikan pula, tanpa disadari semua perkara yang tidak mengenakkan tadi akan membentuk mahasiswa/i menjadi manusia dengan kualitas yang memadai atau bahkan melampaui standar tergantung pribadi masing-masing.
Tentu, jika diterima dengan ikhlas dan melakukan perbaikan maka hasilnya akan baik dan memuaskan pula.
Ada orang yang ketika ditanya “kamu kuliah biar untuk apa?” Seringkali ada saja yang menjawab paling dasar biar gampang dapat kerja atau biar tidak diremehkan bahkan dibandingkan dengan orang lain. Realistis saja jawaban itu benar, tapi untuk mendapatkan gelar Sarjana tentunya harus melewati proses. Rasanya mustahil jika selama kuliah ilmunya tidak bertambah, pastinya ada walau sedikit. Meskipun melelahkan tapi yang namanya beralih ke versi terbaik itu tidak selalu dipenuhi dengan kebahagiaan, tidak selamanya selalu disertai dengan tawa bahagia. Upgrade diri ke versi yang lebih baik, harus sekali-kali keluar dari zona nyaman, berani mencoba, dan pantang menyerah.
Universitas merupakan tempat untuk menimba ilmu dalam tingkatan yang lebih tinggi. Berbeda pada saat masih masa seragam putih abu-abu, di perkuliahan kita dituntut untuk menjadi calon intelektual yang didambakan. Mahasiswa dituntut untuk menjadi orang yang terdidik dan memiliki kemampuan guna menghasilkan suatu inovasi bahkan perubahan pada suatu masyarakat, negara, dan bangsa. Seorang mahasiswa selain memiliki kemampuan di akademis, juga memiliki kemampuan bidang non-akademis seperti berorganisasi. Maka, seberapa pentingkah mengikuti organisasi di kampus?
Mahasiswa merupakan generasi yang diharapkan bisa membangun bangsa. Mahasiswa yang baik memiliki moral dan sikap yang menjunjung tinggi norma etika. Mahasiswa berpeluang untuk mengembangkan idealismenya dengan jiwa semangat membangun atas hal-hal yang terjadi di sekitarnya sehingga mahasiswa merupakan agent of change bagi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya.
Lantas, bagaimana membentuk mahasiswa yang memiliki norma dan sikap yang menjunjung tinggi norma etika. Apakah cukup dengan hanya menjadi mahasiswa yang sekadar kuliah lalu pulang atau dengan mengikuti sebuah organisasi? Jika dengan berorganisasi dapat membentuk mahasiswa menjadi seorang yang memiliki norma dan sikap yang menjunjung tinggi norma etika. bagaimana caranya? Organisasi merupakan tempat berkumpulnya dua orang atau lebih dengan tujuan yang sama dan terstruktur, dengan berorganisasi, mahasiswa didorong untuk mengubah pola pikir, mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman, belajar mengeksplor kemampuan hardskill dan softskill, dan banyak lagi hal-hal yang didapat ketika mengikuti organisasi. Berorganisasi juga membuat mahasiswa lebih mengenal dunia kampus dengan lebih luas.
Ajakan untuk ikut berorganisasi merupakan hal turun-temurun yang diturunkan oleh pendahulu-pendahulu. Bagi mereka, organisasi merupakan ruang untuk belajar tentang pengetahuan dan ruang bagi orang-orang yang memiliki tujuan yang sama. Di situlah organisasi dengan jiwa semangat untuk membangun dan melakukan perubahan atas hal-hal yang terjadi di sekitar. Dari organisasi juga kita akan merasa memiliki wawasan yang lebih luas.
Mahasiswa yang mengikuti organisasi bisa memiliki pemahaman bahwa organisasi merupakan wadah dalam upaya membangun value pada diri sendiri, dengan bergabung dan aktif dalam organisasi maka akan berefek kepada wawasan, cara berpikir, pengetahuan, dan sebagainya. Ada juga mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi dengan alasan takut Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) turun drastis, terlambat lulus, dan lain sebagainya. Ketakutan yang disebabkan karena mereka belum mengetahui dan mengikuti organisasi membuat mahasiswa menjadi malas bahkan tidak tertarik untuk mengikuti sebuah organisasi.
Namun di balik itu, mengikuti organisasi mengajarkan kita untuk mejadi mahasiswa yang aktif, kreatif, dan mampu berkomunikasi dengan siapa saja. Organisasi mengajarkan mahasiswa untuk memahami birokrasi, kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan visi dan misi harus dilawan. Organisasi juga mengajarkan kita untuk memberikan seutuhnya apa yang kita punya untuk dijalani dengan sepenuh hati tanpa mengharap imbalan.
Bagi mereka yang takut atau tidak berminat untuk mengikuti organisasi, jangan takut untuk keluar dari zona nyaman. Berkreasi lah dengan karyamu untuk diri sendiri, lingkungan sekitar, bangsa, dan negara. Tanggung jawab menjadi terbaik merupakan hal yang kita miliki sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Menjadi mahasiswa yang berintegritas dan menjadikan organisasi sebagai pengalaman terbaik selama masa perkuliahan.





