Luwuk, publikmalut.co.id – Aksi kekerasan brutal yang menimpa seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Luwuk-Banggai, empat hari lalu, belum mendapat penanganan serius dari aparat kepolisian. HMI secara terang-terangan menuding Polres Banggai lamban dan tidak transparan dalam mengusut kasus ini, yang dikhawatirkan akan menjadi preseden buruk bagi ruang gerak aktivis muda di wilayah tersebut.
Ketua Bidang Perguruan Tinggi dan Kepemudaan (PTKP) HMI Cabang Luwuk-Banggai, Ahmad Darmadi Duma (yang disapa Adi Duma), dalam pernyataan sikapnya, Selasa (20/1/2036), menyampaikan kekecewaan yang mendalam. Peristiwa pengeroyokan oleh sekelompok pemuda yang terjadi di Kelapa Dua pada Jumat 16 januari 2026 lalu, menyebabkan korbannya menderita luka serius di area mata dan masih berada dalam pemulihan fisik maupun trauma.
“Polres Banggai tidak boleh berleha-leha. Kami mendesak investigasi dilakukan secara cepat dan transparan. Keadilan yang tertunda adalah keadilan yang dikhianati, dan ini akan mengikis rasa aman, khususnya bagi pemuda dan aktivis yang aktif membangun masyarakat,” tegas Duma dengan nada keras.
Dia menegaskan, HMI tidak hanya menolak, tetapi akan melawan segala bentuk intimidasi dan kekerasan dengan pendampingan hukum penuh. “Transparansi proses hukum bukan hanya tuntutan, tapi keharusan mutlak untuk mencegah terulangnya kekejaman serupa. Kebesaran aparat hanya akan membiarkan premanisme berkuasa,” sambungnya.
Sampai berita ini diturunkan, Polres Banggai masih bungkam, enggan memberikan konfirmasi atau perkembangan konkret terkait penyelidikan. Sikap diam ini semakin memperkuat kesan ketidakpedulian pihak berwajib, meski laporan polisi secara administratif telah dicatat.
Keluarga korban yang tengah berjuang menyembuhkan luka fisik dan psikis anaknya, hanya bisa berharap pada kinerja aparat yang dipertanyakan. “Kami meminta profesionalisme. Proses hukum harus berjalan tanpa tebang pilih. Keselamatan kader dan aktivis mana pun harus dijamin negara, bukan justru diabaikan,” pungkas Adi Duma, menyiratkan kegeraman yang tertahan.
Keheningan Polres Banggai di tengah desakan publik ini menjadi ujian nyata bagi komitmen penegakan hukum di Kabupaten Banggai. Masyarakat dan elemen pemuda kini menunggu tindakan nyata, bukan sekadar janji, dari institusi yang seharusnya menjadi penjaga keadilan.





